Pemrograman & AI

Apa Itu QA Tester? Tugas Harian, Skill yang Dibutuhkan, dan Cara Memulai

Penjelasan QA tester untuk pemula: beda QA, QC, dan tester, tugas sehari-hari, skill manual dan otomatisasi, jalur karier, serta rencana belajar 12 minggu dengan proyek portofolio.

QA tester adalah orang yang memastikan sebuah aplikasi bekerja sesuai kebutuhan sebelum dipakai pengguna. Tugasnya menguji fitur, mencari bug, melaporkannya dengan jelas ke programmer, lalu memastikan perbaikannya benar-benar berhasil. QA sendiri singkatan dari quality assurance (penjaminan mutu). Di aplikasi kesehatan, tester yang baik bisa menemukan kasus seperti "pasien dengan nama satu kata tidak bisa disimpan" sebelum masalah itu terjadi di loket pendaftaran.

Artikel ini untuk Anda yang ingin tahu apa itu QA tester atau ingin memulai karier di bidang ini. Teknik menulis test case dan laporan bug dibahas lebih rinci di jenis pengujian dan cara menulis test case.

QA, QC, dan tester: apa bedanya?

IstilahFokusContoh kegiatan
Quality Assurance (QA)Proses, mencegah bug sejak awalMenyusun standar pengujian, ikut review kebutuhan, menentukan kriteria "siap rilis"
Quality Control (QC)Produk, menemukan bug yang sudah adaMenjalankan pengujian terhadap build aplikasi
TesterPelaksana pengujianMenjalankan test case dan mencatat hasilnya

Di lowongan kerja Indonesia, ketiga istilah ini sering dipakai bergantian. Posisi "QA Engineer" biasanya mencakup semuanya, dan kadang juga otomatisasi.

Tugas QA tester sehari-hari

  • Membaca kebutuhan (user story atau dokumen spesifikasi) dan menanyakan bagian yang ambigu. Contoh: "Kalau NIK pasien kosong, boleh disimpan atau tidak?"
  • Menyusun skenario dan test case untuk fitur baru.
  • Menguji build baru di lingkungan staging, baik secara manual maupun dengan skrip otomatis.
  • Melaporkan bug di Jira, GitLab Issues, atau alat sejenis, lengkap dengan langkah reproduksi dan bukti.
  • Retest dan regression test: memastikan bug sudah diperbaiki dan fitur lama tidak ikut rusak.
  • Mendampingi UAT: membantu klien atau pengguna mencoba aplikasi sebelum go-live.
  • Melaporkan kondisi rilis dengan angka, misalnya pass rate dan jumlah bug terbuka. Anda bisa menghitungnya dengan kalkulator metrik QA.

Skill yang dibutuhkan

KelompokSkillKapan dibutuhkan
DasarTeliti, rasa ingin tahu, menulis dengan jelas, memahami alur bisnisSejak hari pertama
Manual testingTest case, teknik boundary value dan equivalence partitioning, laporan bugLevel junior
Teknis dasarSQL untuk mengecek data, DevTools browser, membaca logLevel junior–menengah
API testingPostman atau Bruno, memahami HTTP status, JSONLevel menengah
OtomatisasiSatu bahasa pemrograman (JavaScript/TypeScript, Python, atau Java) dan satu framework: Playwright, Cypress, atau SeleniumQA Engineer / SDET
LanjutanPerformance test (k6, JMeter), CI/CD, dasar keamananSenior

Yang paling sering kurang pada pemula bukan kemampuan teknis, melainkan kemampuan memahami alur bisnis. Tester aplikasi klinik yang paham alur pendaftaran, poli, farmasi, dan kasir akan menemukan bug yang tidak terpikirkan oleh orang yang hanya mengeklik tombol.

Jalur karier

  1. Junior QA / manual tester: menjalankan test case, melaporkan bug.
  2. QA Engineer: merancang strategi pengujian untuk satu produk dan mulai menulis otomatisasi.
  3. Senior QA / SDET (software development engineer in test): membangun framework otomatisasi dan pipeline pengujian.
  4. QA Lead: mengatur tim, proses, dan standar mutu lintas proyek.

Banyak juga yang berpindah dari QA ke peran lain seperti business analyst, product owner, atau programmer, karena pemahaman produknya sudah kuat.

Rencana belajar 12 minggu

MingguMateriHasil yang bisa ditunjukkan
1–2Dasar pengujian, SDLC, jenis pengujianCatatan ringkas dengan kata-kata sendiri
3–4Test case dan laporan bug pada situs demo publik30 test case + 5 laporan bug di spreadsheet
5–6SQL dasar dan DevTools browserQuery untuk memeriksa data hasil uji
7–8API testing dengan PostmanKoleksi Postman dengan assertion
9–11Otomatisasi UI dengan Playwright atau Cypress10 skenario otomatis di repository GitHub/GitLab
12Menjalankan tes otomatis di CIPipeline yang menjalankan tes setiap push

Latihlah pada aplikasi demo yang memang disediakan untuk latihan pengujian, atau aplikasi buatan sendiri. Jangan menguji situs milik orang lain tanpa izin, terutama pengujian beban atau keamanan.

Sertifikasi: perlu atau tidak?

Sertifikasi seperti ISTQB Foundation Level membantu menyamakan istilah dan kadang menjadi nilai tambah saat melamar, terutama di perusahaan besar atau vendor yang melayani klien luar negeri. Namun portofolio yang menunjukkan test case, laporan bug, dan skrip otomatisasi biasanya lebih meyakinkan bagi tim teknis. Jika anggaran terbatas, dahulukan portofolio.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah QA tester harus bisa coding? Untuk posisi manual tester tidak wajib, tetapi SQL dasar hampir selalu diminta. Untuk QA Engineer dan SDET, kemampuan coding menjadi syarat utama.

Apakah lulusan non-IT bisa menjadi QA tester? Bisa. Latar belakang domain justru bernilai. Perawat atau petugas rekam medis yang belajar testing, misalnya, sangat membantu tim aplikasi kesehatan karena paham alur kerja di lapangan.

Apakah AI akan menggantikan QA tester? AI membantu membuat draf test case dan skrip otomatisasi, tetapi keputusan tentang apa yang penting diuji, dan apakah hasilnya benar menurut kebutuhan bisnis, tetap perlu manusia. Cara memakai AI secara aman dibahas di AI untuk programmer.